
0029-01-048581-505
A/n: Yuni Indrawati

1260480070
A/n: Yuni Indrawati



Cerita tentang Beringharjo
Beringharjo… tidak bisa dilepaskan dari Jogja
Beringharjo merupakan pasar tradisional terbesar di Jogja, juga merupakan pasar tertua yang keberadaanya mempunyai nilai historis dan filosofis yang tidak dapat dipisahkan dengan kraton jogja. Tidak berlebihan jika disebut sebagai salah satu pasar terindah di Jawa.
Beringharjo terus berkembang, berdampingan dengan Malioboro, salah satu ikon kota Jogja. Pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis.
Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Beringharjo juga merupakan salah satu pilar 'Catur Tunggal', yakni pola tata kota masa lalu yang mencakup empat hal dalam hal pembangunan yakni Keraton sebagai pusat, alun-alun, tempat ibadah (masjid) dan pasar.
Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Beringharjo juga merupakan salah satu pilar 'Catur Tunggal', yakni pola tata kota masa lalu yang mencakup empat hal dalam hal pembangunan yakni Keraton sebagai pusat, alun-alun, tempat ibadah (masjid) dan pasar.
Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama 'Beringharjo' sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.
Meski berstatus pasar tradisional, Beringharjo bisa dikatakan cukup modern. Dengan fasilitas ekskalator serta pusat perpembelanjaan bercirikan swalayan menjadikan ada semacam penggabungan antar aspek tradisional dan modern.
Beringharjo adalah sentra batik terbaik karena koleksi batiknya lengkap. Mulai batik kain maupun sudah jadi pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai hampir sejuta tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara. Sementara koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat. Selain pakaian batik, los pasar bagian barat juga menawarkan baju surjan, blangkon, dan sarung tenun maupun batik. Sandal dan tas yang dijual dengan harga miring dapat dijumpai di sekitar eskalator pasar bagian barat.
Suasana Sentra Batik Pasar Beringharjo
Jika berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, jangan heran bila mencium aroma jejamuan. Tempat itu merupakan pusat penjualan berbagai macam bahan dasar jamu Jawa (herbal) dan rempah-rempah.
Bagi anda yang suka koleksi barang-barang kerajinan antik baik dari bambu, kayu atau bahan lain silakan naik ke lantai 3 bagian timur. Di tempat itu, anda bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam barang bekas impor seperti sepatu, tas, bahkan pakaian dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Tentu butuh kejelian dalam memilih. Melihat koleksi barang-barang antik disini menjadi bingung untuk memilih mana yang harus dibeli.
Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dapat dijumpai brem bulat dengan tekstur lebih lembut dari brem Madiun dan krasikan (semacam dodol dari tepung beras, gula jawa, dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Sementara bagian belakang umumnya menjual panganan yang tahan lama seperti ting-ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang.
Jika haus, meminum es cendol khas Yogyakarta adalah adalah pilihan jitu. Es cendol Yogyakarta memiliki citarasa yang lebih kaya dari es cendol Banjarnegara dan Bandung. Isinya tidak hanya cendol, tetapi juga cam cau (semacam agar-agar yang terbuat dari daun cam cau) dan cendol putih yang terbuat dari tepung beras. Minuman lain yang tersedia adalah es kelapa muda dengan sirup gula jawa dan jamu seperti kunyit asam dan beras kencur.
Ke Jogja tidak mampir ke Pasar Beringharjo, ibarat makan sayur tanpa garam, kurang sedap.
Dari: berbagai sumber
Last Updated (Saturday, 31 July 2010 05:05)




Comments
RSS feed for comments to this post